Ungkapan sebuah
kenyataan yang susah gue ungkap dengan kata-kata. Kalah tiga kali
berturut-turut dalam permainan itu sungguh sangat memalukan, apalagi gue
seorang cowo, yang lebih hina nya itu gue setelah kalah main itu harus
menyalami mereka satu-satu padahal gue sedang terlibat perang dingin, perang
dengan kata-kata, taunya gue yang kalah akhirnya gue harus menyalami mereka
satu persatu termasuk dengan teman yang gue ajak perang dingin, itu memalukan
sekali bagi gue.
Hingga suatu ketika gue dengan temen temen
sedang asik-asiknya bermain tiba-tiba masuk sesosok guru datang dan menghampiri kita
semua yang sedang asik-asiknya bermain dan berkata ko kalian bisa santai-santai gini sih?gurunya ada atau engga Tanya
guru tersebut engga bu… sahut
temen-temen gue, tiba –tiba guru tersebut berkata coba, kesinikan kartu nya (dengan logat sedikit batak). Gue sama
temen temen gue Cuma bisa nurut aja dan Cuma bisa bilang iya buu… kemudian guru tersebut kembali berkata kalian bisa-bisanya santai gini dan
blablablabla… yang pada akhirnya kartu uno gue yang jadi korbannya, yang pada
akhirnya kartu uno tersebut diserahkan kepada wali kelas gue.
Tapi gue dan temen-temen gue ga kehabisan akal untuk kembali bermain uno, akhirnya teman gue membawa ke sekolah kartu uno yang dia miliki untuk kita mainkan kembali, setelah pengalaman 2 kali kartu uno di razia, kami jadi lebih waspada lagi tiap memaikan kartu uno tersebut, tiap ada gerak gerik guru dari luar “reflek” gue dan temen-temen gue langsung membereskan kartu tersebut dengan sangat amat cepat agar tidak dapat diambil lagi untuk yang ke 3 kalinya.
Tapi gue dan temen-temen gue ga kehabisan akal untuk kembali bermain uno, akhirnya teman gue membawa ke sekolah kartu uno yang dia miliki untuk kita mainkan kembali, setelah pengalaman 2 kali kartu uno di razia, kami jadi lebih waspada lagi tiap memaikan kartu uno tersebut, tiap ada gerak gerik guru dari luar “reflek” gue dan temen-temen gue langsung membereskan kartu tersebut dengan sangat amat cepat agar tidak dapat diambil lagi untuk yang ke 3 kalinya.
Tak terasa waktu semakin berlau, tinggalkan semua cerita yang pernah kita lalui bersama canda,tawa, sedih gundah gulana kita telah lalui bersama tanpa gue sadari akhirnya kita akan berjuang untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam UN dan LULUS 100 %. Akhirnya kesenangan bermain uno pun harus kita akhiri, mungkin setelah UN nanti kita tidak akan sering bertemu seperti sedia kala saat kita masih dalam proses belajar mengajar. Terima kasih semua kalian adalah sahabat terbaik saya, terima kasih atas kesenagan semua ini I love you all